Kategori
Kesehatan

Hampir Setengah TK di Korsel Diprediksi Bakal Tutup gegara Krisis Populasi

Jakarta –

Korea Selatan terus menghadapi masalah penurunan angka kelahiran. Kondisi ini nampaknya berdampak pada taman kanak-kanak dan prasekolah.

Dikutip oleh Koreaboo, sebuah laporan baru-baru ini memperkirakan sepertiga dari institusi tersebut akan tutup pada tahun 2028 karena menurunnya jumlah siswa yang mendaftar.

Institut Perawatan dan Pendidikan Anak Korea Selatan mengatakan jumlah taman kanak-kanak di seluruh negeri mengalami penurunan yang signifikan. Penurunannya mencapai 21,1% dari 39.181 pada tahun 2018 menjadi 30.923 pada tahun 2022.

Taman Kanak-kanak juga mengalami penurunan sebesar 5,1% pada periode yang sama. Tren ini didorong oleh berkurangnya jumlah bayi dan anak kecil, dan situasi ini diperkirakan akan semakin memburuk.

Statistik Korea memperkirakan tingkat kesuburan pada tahun 2023 hanya 0,72 anak yang lahir per wanita. Angka tersebut berdasarkan tahun 2022 dan memperkirakan populasi anak akan terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Proyeksi menunjukkan bahwa jumlah anak di bawah usia satu tahun akan turun di bawah 200.000 pada tahun 2026.

Dampak dari data demografi ini sudah mulai terlihat pada layanan penitipan anak dan pendaftaran pra-sekolah. Pendaftaran penitipan anak turun lebih dari 1,41 juta pada tahun 2019 menjadi 1,09 juta pada tahun 2022. Pendaftaran anak prasekolah juga turun dari 675.998 pada tahun 2018 menjadi 552.812 pada tahun 2022, atau terjadi penurunan sebesar 18,2 persen.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa sekitar 31,8% pusat penitipan anak dan taman kanak-kanak, dengan total 12,416 fasilitas, berisiko ditutup dalam empat tahun ke depan. Penurunan ini diperkirakan akan lebih besar lagi di kota-kota besar, dengan perkiraan penurunan sebesar 39,4% di Busan, 37,3% di Seoul, 37,3% di Daegu, dan 34% di Incheon.

Untuk mengatasi krisis yang mungkin terjadi, laporan ini menyoroti perlunya dukungan untuk menjaga infrastruktur penitipan anak seminimal mungkin, terutama di daerah dengan arus keluar penduduk. Laporan tersebut merekomendasikan dukungan finansial bagi lembaga-lembaga yang berisiko ditutup dan menetapkan pusat penitipan anak dan taman kanak-kanak tertentu di wilayah rentan sebagai infrastruktur penting. Tonton video “Korea Selatan menyetujui larangan daging anjing” (avk/suc)

Kategori
Kesehatan

Kata Dokter soal ‘Jadwal Piket’ Organ Tubuh, Betulan Ada Nggak Sih?

Jakarta –

Beberapa waktu lalu ada postingan di media sosial tentang ‘jam piket organ’. Teks tersebut menunjukkan bahwa organ dapat bekerja lebih keras pada waktu-waktu tertentu.

Kondisi ini membuat organ tubuh tampak bekerja sesuai programnya. ah, benarkah?

Oleh Dr. Aru Ariadno, dokter spesialis penyakit dalam, SpPD-KGEH, jenazah bekerja 24 jam sehari dan tidak menggunakan ‘pendidikan selektif’. Ia menambahkan, waktu tidak menentukan apakah organ dalam bekerja keras atau tidak.

Oleh Dr. Kuat tidaknya berfungsinya organ-organ itulah yang menentukan berfungsinya seseorang.

“Sebenarnya itu ada hubungannya dengan aktivitas sehari-hari dan tidak ada hubungannya dengan waktu. Saat kita sibuk, bekerja di kantor yang melelahkan, otak kita bekerja lebih keras dibandingkan saat kita tidur atau tidur,” kata dr Aru di Detikcom.

Dokter Aru mengatakan, selain jenis aktivitas, makanan yang dikonsumsi juga mempengaruhi fungsi organ tubuh. Menurutnya, ada jenis makanan atau kebiasaan makan tertentu yang mempersulit kerja organ tubuh.

“Saat kita makan lebih banyak dari biasanya, tinggi lemak, terlalu manis, atau kurang serat, usus kita bekerja lebih keras dibandingkan saat kita berpuasa. Oleh karena itu, organ tubuh kita yang bekerja pada saat digunakan tidak berfungsi. terkait dengan hari itu,” jelasnya.

Mengenai fungsi organ tubuh, Dr. Aru merupakan organ tubuh yang bekerja sendiri dan bergerak sendiri tanpa bantuan manusia. Seluruh bagian tubuh bekerja secara mandiri, tidak satu demi satu.

Saat seseorang beristirahat, organ-organ di dalam tubuhnya tetap bekerja menjalankan fungsinya. Jadi seperti Dr. Aru, istilah ‘waktu piket organ’ tidak berdasar.

“Belum ada bukti ilmiah yang menyatakan adanya perubahan pada bagian tubuh,” ujarnya. Tonton video “Manfaat berdasarkan prinsip promosi dan pencegahan yang lebih baik” (avk/kna)